Sustanon, Steroids Paling aman

Setidaknya itulah menurut William Llewellyn (pengarang buku Anabolics 2007). Memungkinkan anda membesarkan massa otot dan keamanan secara bersamaan. Pengertian aman didalam dunia steroids itu relatif sifatnya, karena banyak faktor yg bisa di ajukan utk mendefinisikan apa itu aman. Misal, pada awal awal steroids baru saja dikenal manusia, banyak merk merk steroids yg di kembangkan dengan satu tujuan, membuat testosterone menjadi seaman mungkin. Itu menjelaskan kenapa banyak merk steroids saat ini. Semua itu adalah turunan testosterone yg sudah di modifikasi. Baik oral maupun injeksi.

Secara tak langsung, fakta itu mengatakan pada anda, bahwa testosterone adalah sesuatu yg vital dan sangat amat penting bagi binaraga dan sport pada umumnya. Anda boleh saja memakai merk ini dan itu, tapi pada akhirnya, mau tak mau anda harus berpaling kepada testosterone sejati yg kebetulan saat ini hanya tersedia dalam bentuk injeksi yg paling di benci newbie yg takut jarum suntik itu (mostly).

Testosterone memang sudah di akui sebagai hormon yg mumpuni, di jamin efektif, di jamin memberikan hasil pada fitness anda, tapi juga sekaligus sangat beresiko jadi penyebab efek samping yg berkaitan dengan aktifitas estrogen dan androgenik. Misal, jerawat yg tak terkendali, kembung air, tekanan darah naik, ukuran prostat membesar, beresiko kena kanker prostat walau masih di perdebatkan. Patut di catat bahwa dianabol adalah produk yg paling memenuhi syarat (merk steroids hasil modifikasi testosterone yg mengeksploitasikan sisi sisi paling aman dari testosterone paling banyak di capai) saat diperkenalkan 1958.

Dianabol, atau dbol ini, dianggap tidak seseram testosterone, tidak berdaya androgenik sebanyak testosterone, dianggap lebih aman ketimbang testosterone injeksi. Namun pemakaian dbol di hentikan oleh dunia kedokteran karena berdampak negatif pada serum lipid dan meningkatkan resiko penyakit cardio bagi yg mengidap bawaannya. Namun perlu di catat pula, dalam dunia steroids, berlaku hukum yg intinya, semakin tidak berbahaya sebuah drug, semakin rendah efektifitas nya dan tingkat keberhasilannya dalam membentuk otot anda. Sebuah dilema yg tampaknya harus bisa di jawab para newbie peminat steroids sebelum memutuskan hendak pakai merk apa saja itu.

Memakai steroids yg tidak berbahaya berarti fitnessmania berkompromi dengan dirinya sendiri, menerima fakta jika kelak hasilnya tidak sesuai harapannya. Memakai steroids berbahaya berarti fitnessmania menerima resiko terburuk yg mungkin terjadi karena konflik dengan genetiknya yg payah dan atau karena salah strategi pemakaiannya (di saat bersamaan fisiknya sesuai harapan yg di inginkannya, bahkan melebihi harapannya). Silahkan anda jawab sendiri mau yg mana.

Testosterone, mother of all steroids, lengkap dengan fitur fitur estrogen dan androgenik yg oleh para ilmuwan, diupayakan untuk memodifikasi fitur fitur tersebut selama berpuluh puluh tahun, guna mendapatkan merk steroids baru yg dianggap paling aman. Testosterone adalah hormon natural yg ada pada semua tubuh mahluk hidup (dalam hal ini, manusia), yg siap di proses oleh liver. Bahkan dengan asupan dosis tinggi seperti 3 gram/minggu skalipun, tidak terjadi efek samping hepatic, kalaupun ada, sangat amat rendah sekali. Hepatic maksudnya, efeknya terhadap kolesterol baik (HDL). Rendah artinya, tidak menurunkan kadar HDL.

Pada tubuh manusia, serum androgen dan kadar HDL berjalan berlawanan. Jika salah satunya tinggi, maka yg lainnya akan rendah. Atau sebaliknya. Sifat seperti ini di miliki semua drug steroids yg berbau anabolik/androgenik. Artinya, testosterone injeksi jauh lebih aman dibandingkan hormon sintetis seperti dbol misalnya. Sebuah pukulan telak bagi mereka yg benci suntik menyuntik. Kenapa? Karena testosterone sudah dalam bentuk siap di aromatisasikan ke estrogen, sebuah hormon yg berdampak positif pada profil kolesterol anda. Estrogen yg di picu oleh testosterone injeksi inilah yg mampu meredam efek samping negatif androgen dari testosterone injeksi anda. 600mg/week testosterone hanya menyebabkan 21% penurunan HDL. 300mg/week testosterone (dosis newbie kebanyakan) cuma menyebabkan 13% penurunan HDL. Semua prosentasi ini terbilang amat kecil, dibandingkan steroids sintetis oral yg ada.

Bandingkan dengan deca yg terkenal dgn reputasinya sebagai salah satu steroids androgen teraman yg pernah ada. Deca bisa menyebabkan penurunan 27% HDL dengan dosis deca 600mg/week. Artinya dari sudut pandang HDL, deca lebih parah ketimbang testosterone. Di saat bersamaan, deca juga punya segi positif nya, yaitu daya konversi ke estrogen lebih rendah dibandingkan testosterone. Primobolan bahkan tidak bisa di konversi menjadi estrogen, salah satu steroids teraman yg pernah ada, namun dari sudut pandang resiko kardio, primo berada satu tahap dibelakang deca yang artinya, pemakaian primo tetap menyimpan efek negatif (dalam hal ini, kardio). Jujur aja, ketiga hormon steroids itu semuanya aman di pakai asal dalam dosis yang di anjurkan dan di pakai dalam kurun waktu terbatas (cycle). Tapi jika anda mencari steroids yg benar benar aman 100%, maka pemenang nya jatuh kepada testosterone jenis slow acting seperti Sustanon250.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: